Bagaimana saya tidak akan bersyukur yang berlipat-lipat ketika pada Sabtu, 18 April 2009 kemarin saya punya kesempatan yang begitu langka. Meski ini kesempatan untuk yang kedua kalinya, namun tetap saja rasanya tetap mendebarkan. Pada kesempatan pertama saya mengalaminya saja, untuk beberapa hari selanjutnya saya seperti mengalami shock realitas, perasaan seperti tidak percaya pada kenyataan yang baru saya alami. Saya terus mencoba-coba untuk meyakinkan diri bahwa itu riil, nyata adanya meski saya tak mampu menerima logika kenapa mereka benar-benar ada. Lantas saya menjadi gelagapan untuk menyalahkan berbagai pihak, namun toh kenyataannya persoalan mereka begitu kompleks dan terlalu rumit untuk diurai ujung pangkalnya.
Kawan, saya seolah tak sanggup menerima realitas ini. Mereka nampak begitu lugu, natural dan tak berdaya. Kenapa ada yang tega untuk merekayasa keberadaan mereka, teRlebih menyuburkan keberadaannya. Bahkan yang tak sanggup saya yakini adalah ada di antara mereka yang harus terus mengukuhkan diri menerima kenyataan status dirinya hingga usia senja menjelang gelap gulita.
Jum’at, 17 April 2009 pukul 19.00 ada SMS masuk, seorang kawan dari sebuah provider pelatihan meminta saya untuk memimpin Outbound Program di Kebun Teh Wonosari, besoknya. Sejenak saya diskusi dengan istri mengenai agenda kami besok dan akhirnya diputuskan bahwa waktu saya luang meski malamnya saya harus antar istri untuk bertemu dengan kelompok tani binaanya di Kromengan [+ 20Km dari rumah]. Meski biasanya saya nggak begitu suka dihubungi mendadak begini, entah malam itu saya langsung merespon SMS itu dan meng-iya-kan. Pada SMS berikutnya sekaligus saya bertanya siapa kira-kira pesertanya dan apa peran saya. SMS jawabannya begini “Antum (baca: kamu) yg pimpin. Sy support aja. Psrta para PSK. diawal icebreaking spt biasa ……….. Tp itu bisa diatur, yg pnting goalx spy mrk bs mentas dr aktivitas saat ini”. Kontan saya tersenyum kecut membaca siapa gerangan yang akan menjadi peserta outbound saya. Hehehe bayangkan saja bisanya saya memimpin Outbound untuk pelajar, mahasiswa atau karyawan dan profesional, ndilalah sekarang saya diminta memimpin Outbound untuk Pekerja Seks Komersial. MasyaAllah…………
Kawan bila di awal saya tulis bahwa saya betul-betul bersyukur, itu karena pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk bisa berbagi wawasan dan motivasi bahwa bila kita mau kita dapat memilih pilihan hidup yang lebih baik. Itu saja, dan alhamdulillah saya bisa lakukan itu. Soal berdampak atau tidak itu urusan Allah swt, tugas dan kewajiban saya sudah selesai. Buat mbak-mbak yang ketemu saya di wonosari kemarin! “ayo segera temukan jalan yang lebih baik, seperti hikmah dari game terakhir, menemukan jalan kebenaran itu memang sulit namun bukan berarti tak mungkin karena Allah pasti telah sediakan track terbaik bagi kita bila kita mau meraihnya!”. Alhamdulillah yang berikutnya karena di saat-saat terakhir program itu ada seorang peserta sambil berlinang air mata yang berpamitan kepada semua teman-temanya karena hari ini [Senin, 20 April 2009] dia akan meninggalkan lokalisasi dan akan kembali ke kampung halamannya….. Alhamdulillahhh…………
Kawan, sebenarnya saya ingin tulis pernak-pernik program ini dan berbagai cerita tentang mereka, tapi khawatir kepanjangan. Semoga kesempatan posting berikutnya saya ada kesempatan untuk tulis.
Kawan, kita harus senantiasa bersyukur bukan?
Sebenarnya hidup ini tentang apa ya? Tentang berjuang kah? Tentang berhasil kah? Tentang sukses kah? Tentang bermakna kah? atau tentang apa?
Kawan, dalam bukunya dr. Arief Alamsyah [The Way to Happiness] mengungkapkan satu teknik untuk menjadi manusia bahagia, yaitu jadilah orang yang “hidup disaat ini” [Get Present Oriented]. Buat saya yang agak susah komitmen pada sesuatu, ini jadi menarik kawan! soalnya diantara sumber ketidak komitmenan saya adalah terlalu kuat mengecewai kegagalan dalam berkomitmen di masa lalu dan terlalu kuat mencemasi kemungkinan kegagalan berkomitmen di masa depan.
Kawan, saya adalah salah satu diantara teman-teman di kelas yang berasal dari kampung, bermimpi untuk bersaing dengan mereka yang telah mengenyam pendidikan di kota tentulah tantangan tersendiri. Bahkan saya tidak bisa lupa pengalaman pertama kali menjadi bahan tertawaan teman-teman kelas hanya karena bahasa Indonesia saya yang udik. Saya betul-betul tidak bisa lupakan itu. Dengan kondisi semacam ini, mimpi ibu itu menjadi spirit tersendiri bagi saya untuk berani memilih akhir seperti apa yang saya inginkan dari masa SMP saya. Meski bahkan di semester pertama kelas 3 pun mimpi itu tak kunjung hadir, saya tidak patah semangat. Saya masih yakin bahkan pada kesempatan terakhir pun pasti saya masih punya harapan.
dari bagaimana setiap fenomena kehidupan itu secara tiba-tiba berubah menjadi indah.
Kawan, sebelumnya saya meyakini bahwa kebahagiaan adalah hasil dari setiap stimulus emosi yang saya terima. Maksudnya saya akan bahagia bila saya dicintai, bila saya punya rumah mewah, bila semua orang mengagumi saya, bila saya berada di tempat yang indah, bila keinginan saya dituruti dan berbagai prasyarat lainnya. Seolah bila itu semua tak saya dapatkan maka dunia ini hambar adanya.
Ungkapan Bahagia