Hiduplah di Saat Ini

20 01 2009

82382653Kawan, dalam bukunya dr. Arief Alamsyah [The Way to Happiness] mengungkapkan satu teknik untuk menjadi manusia bahagia, yaitu jadilah orang yang “hidup disaat ini” [Get Present Oriented]. Buat saya yang agak susah komitmen pada sesuatu, ini jadi menarik kawan! soalnya diantara sumber ketidak komitmenan saya adalah terlalu kuat mengecewai kegagalan dalam berkomitmen di masa lalu dan terlalu kuat mencemasi kemungkinan kegagalan berkomitmen di masa depan.

Dalam beberapa percobaan [ceile..... alias praktek] ku temukan satu efek menakjubkan dengan GPO [get present oriented] ini. Misal waktu saya mencoba komitmen untuk meniru Bilal bin Rabah [sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga] dalam menjaga wudhu dan shalat sunnah ba’da thaharah, awalnya ada suara-suara hati yang berkata-kata begini: “alah paling-paling gagal lagi kayak biasanya…..” sama “hehehe sekarang sih boleh semangat, tapi coba ntar lagi, paling 2-3 hari KO!”

Kawan selama ini saya sering termakan dengan suara-suara hati yang menyebalkan itu! tapi kali ini tidak lagi, sejak saya berusaha untuk GPO saya lawan suara itu denga ungkapan yang tak kalah “menyebalkan” [heheheh] seperti:
“biar aja kemarin gagal emang kenapa? saya khan ga akan bawa masa lalu terus-terusan kemana-mana, wueeekkk!!!” atau “masa depan khan masih ntar lagi ngapain dipikirin, yang penting aku kerjain dulu sekarang, perkara ntar nggak lanjut ya coba lagi, gitu aja koq repot heheheh” atau “yang penting khan sekarang aku komitmen??!!! wek perkara bentar lagi ga komitmen lagi, itu mah urusan ntar!!!! khan bisa komitmen lagi”

alhamdulillah kecemasan yang menjadi penghalang saya untuk memulai berkomitmen pada rencana posititf tertentu mendadak kabur jauuuuuuuuuuuuh banget, heheheh

Di NLP (Neuro-Linguistic Programming) cara yang saya lakukan di atas adalah teknik reframing. Reframing adalah teknik membingkai ulang sebuah pengalaman agar memiliki “rasa” berbeda sehingga memberikan pengalamn baru bagi kita (begitu kira-kira makna sederhananya).

Kawan anda boleh koq coba juga!!!!!
Ada yang bisa saya bantu????





Bahagia Membuat Mimpi Menjadi Nyata

20 01 2009

Kawan, sewaktu SMP dulu saya pernah memiliki mimpi untuk masuk dalam peringkat 10 besar pararel dalam satu angkatan. Salah satu tradisi yang ada di SMP Negeri 1 Kalisat dimana saya sekolah dulu adalah mengumumkan 10 siswa yang masuk peringkat tertinggi pararel dalam satu angkatan. Pengumumannya dilakukan pada saat orang tua siswa hadir untuk pengambilan raport. Jadi sebelum mengambil raport kepada wali kelas masing-masing anak mereka, terlebih dahulu mereka dikumpulkan untuk menerima berbagai informasi dari sekolah termasuk peringkat 10 besar pararel tadi. Bayangkan betapa bangganya para orang tua yang nama anaknya dipanggil kemudian mereka diminta berdiri dan menerima aplause meriah dari orang tua lainnya. Hingga satu ketika ibu mengungkapkan mimpinya, bahwa kelak ia ingin merasakan menjadi salah satu orang tua yang dipanggil untuk berdiri. Sejak saat itu saya menyimpan mimpi ibu itu menjadi mimpi saya sendiri.

200416908-001Kawan, saya adalah salah satu diantara teman-teman di kelas yang berasal dari kampung, bermimpi untuk bersaing dengan mereka yang telah mengenyam pendidikan di kota tentulah tantangan tersendiri. Bahkan saya tidak bisa lupa pengalaman pertama kali menjadi bahan tertawaan teman-teman kelas hanya karena bahasa Indonesia saya yang udik. Saya betul-betul tidak bisa lupakan itu. Dengan kondisi semacam ini, mimpi ibu itu menjadi spirit tersendiri bagi saya untuk berani memilih akhir seperti apa yang saya inginkan dari masa SMP saya. Meski bahkan di semester pertama kelas 3 pun mimpi itu tak kunjung hadir, saya tidak patah semangat. Saya masih yakin bahkan pada kesempatan terakhir pun pasti saya masih punya harapan.

Satu hal yang saya ingat betul ketika kelas 3, ada satu guru yang dikenal cukup “sangar”, beliau mengajar Matematika, namanya Bpk. Nursyamsu (terakhir saya dengar beliau menjadi kepala sekolah). Pak Syamsu, begitu kami biasa memanggil beliau, memberi tugas untuk menyusun ulang intisari pelajaran Matematika bab per bab sejak kelas satu hingga pelajaran terakhir yang didapat. Boleh Anda tebak barapa banyak buku yang kami gunakan untuk mencatat ulang semua pelajaran itu! Yang pasti seingat saya, saya menggunakan 3-4 buah buku besar ukuran folio bergaris. Sementara ada diantara teman-teman saya yang menghabiskan lebih banyak lagi buku. Bahkan saya dapat melihat dengan pasti bagaimana meja Pak Syamsu ini dikelilingi benteng tumpukan buku yang tinggi menjulang. Lebih parahnya lagi, kami harus menyalin semua pelajaran matematika tersebut dengan sistematika pencatatan yang sesuai standar. Tentu saja bagi kami yang terbiasa “dimanja” dengan metodologi penyelesaian matematika denga sistem “asal tahu sama tahu” alias main singkat-singkat saja, tugas beliau ini menjadi makin berat untuk didiselesaikan. Wajar saja bila sebagian dari teman-teman saya merasakan tugas ini sebagai beban yang melelahkan jiwa dan raga.

Sementara, saya sendiri merasa heran, takjub karena saya justru merasa bahagia mengerjakan tugas ini. Saya menikmati sekali setiap proses menyelesaikan tugas ini. Setiap ada waktu luang, dengan riang saya kerjakan. Bahkan akhirnya perasaan riang itu merembet pada pelajaran-pelajaran lainnya. Saya memang tidak sempurna menyelesaikan tugas dari Pak Syamsu, namun terakhir saya baru menyadari bahwa bukan catatan ulang itu substansi pendidikan beliau tapi pada saat kami harus mengulang kembali semua pelajaran dan bahkan mencatatnya itulah yang membuat kami “dipaksa” belajar kembali. Dan karena ini menjadi tugas yang dikumpulkan maka belajar kembali ini mau tidak mau harus kami lakukan. Hari ini setelah saya mengetahui pelajaran berharga dari proses yang dilakukan Pak Syamsu dulu, saya merasa berhutang terima kasih kepada beliau. Semoga rasa terima kasih ini kelak sampai juga kepada beliau entah bagaimana caranya.

Kembali ke persoalan bahagia tadi kawan, karena saya melakukannya denga bahagia maka saya memandang tugas itu dari sudut pandang yang berbeda dengan teman-teman lainnya. Hingga sekarang saya belum bisa menjelaskan bagaimana saya mendapatkan perasaan bahagia itu mengingat sebelumnya saya tidak begitu menyukai pelajaran matematika, pun saya tidak terlalu terpesona dengan sosok Pak Syamsu. Terlepas dari mana asal usul perasaan bahagia itu, saya dengan yakin menyimpulkan sekali lagi bahwa kebahagiaan adalah sebab 82245824dari bagaimana setiap fenomena kehidupan itu secara tiba-tiba berubah menjadi indah.

Nah yang menakjubkan kawan, akhirnya di semester terakhir kelas 3 itulah (terakhir banget ya??? hehehe) akhirnya saya dapat masuk 10 besar pararel, meski hanya peringkat 9 namun kebahagiaannya tak terperikan. Meski ada satu hal yang agak saya sesalkan kawan, karena pada pengumuman terakhir ini yang menerima bukanlah orang tua, tapi kami sendiri. Jadi meski impianku untuk masuk 10 besar pararel tercapai, namun saya belum bisa membuat ibu berdiri dan menerima aplause dari wali murid lainnya, walau saya yakin beliu tetaplah bahagia. thanx mom!!!

Kawan anda juga bisa seperti ini bukan? Berbahagialah kawan!!!

Anda perlu bantuan?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.