Bahagia Membuat Mimpi Menjadi Nyata

20 01 2009

Kawan, sewaktu SMP dulu saya pernah memiliki mimpi untuk masuk dalam peringkat 10 besar pararel dalam satu angkatan. Salah satu tradisi yang ada di SMP Negeri 1 Kalisat dimana saya sekolah dulu adalah mengumumkan 10 siswa yang masuk peringkat tertinggi pararel dalam satu angkatan. Pengumumannya dilakukan pada saat orang tua siswa hadir untuk pengambilan raport. Jadi sebelum mengambil raport kepada wali kelas masing-masing anak mereka, terlebih dahulu mereka dikumpulkan untuk menerima berbagai informasi dari sekolah termasuk peringkat 10 besar pararel tadi. Bayangkan betapa bangganya para orang tua yang nama anaknya dipanggil kemudian mereka diminta berdiri dan menerima aplause meriah dari orang tua lainnya. Hingga satu ketika ibu mengungkapkan mimpinya, bahwa kelak ia ingin merasakan menjadi salah satu orang tua yang dipanggil untuk berdiri. Sejak saat itu saya menyimpan mimpi ibu itu menjadi mimpi saya sendiri.

200416908-001Kawan, saya adalah salah satu diantara teman-teman di kelas yang berasal dari kampung, bermimpi untuk bersaing dengan mereka yang telah mengenyam pendidikan di kota tentulah tantangan tersendiri. Bahkan saya tidak bisa lupa pengalaman pertama kali menjadi bahan tertawaan teman-teman kelas hanya karena bahasa Indonesia saya yang udik. Saya betul-betul tidak bisa lupakan itu. Dengan kondisi semacam ini, mimpi ibu itu menjadi spirit tersendiri bagi saya untuk berani memilih akhir seperti apa yang saya inginkan dari masa SMP saya. Meski bahkan di semester pertama kelas 3 pun mimpi itu tak kunjung hadir, saya tidak patah semangat. Saya masih yakin bahkan pada kesempatan terakhir pun pasti saya masih punya harapan.

Satu hal yang saya ingat betul ketika kelas 3, ada satu guru yang dikenal cukup “sangar”, beliau mengajar Matematika, namanya Bpk. Nursyamsu (terakhir saya dengar beliau menjadi kepala sekolah). Pak Syamsu, begitu kami biasa memanggil beliau, memberi tugas untuk menyusun ulang intisari pelajaran Matematika bab per bab sejak kelas satu hingga pelajaran terakhir yang didapat. Boleh Anda tebak barapa banyak buku yang kami gunakan untuk mencatat ulang semua pelajaran itu! Yang pasti seingat saya, saya menggunakan 3-4 buah buku besar ukuran folio bergaris. Sementara ada diantara teman-teman saya yang menghabiskan lebih banyak lagi buku. Bahkan saya dapat melihat dengan pasti bagaimana meja Pak Syamsu ini dikelilingi benteng tumpukan buku yang tinggi menjulang. Lebih parahnya lagi, kami harus menyalin semua pelajaran matematika tersebut dengan sistematika pencatatan yang sesuai standar. Tentu saja bagi kami yang terbiasa “dimanja” dengan metodologi penyelesaian matematika denga sistem “asal tahu sama tahu” alias main singkat-singkat saja, tugas beliau ini menjadi makin berat untuk didiselesaikan. Wajar saja bila sebagian dari teman-teman saya merasakan tugas ini sebagai beban yang melelahkan jiwa dan raga.

Sementara, saya sendiri merasa heran, takjub karena saya justru merasa bahagia mengerjakan tugas ini. Saya menikmati sekali setiap proses menyelesaikan tugas ini. Setiap ada waktu luang, dengan riang saya kerjakan. Bahkan akhirnya perasaan riang itu merembet pada pelajaran-pelajaran lainnya. Saya memang tidak sempurna menyelesaikan tugas dari Pak Syamsu, namun terakhir saya baru menyadari bahwa bukan catatan ulang itu substansi pendidikan beliau tapi pada saat kami harus mengulang kembali semua pelajaran dan bahkan mencatatnya itulah yang membuat kami “dipaksa” belajar kembali. Dan karena ini menjadi tugas yang dikumpulkan maka belajar kembali ini mau tidak mau harus kami lakukan. Hari ini setelah saya mengetahui pelajaran berharga dari proses yang dilakukan Pak Syamsu dulu, saya merasa berhutang terima kasih kepada beliau. Semoga rasa terima kasih ini kelak sampai juga kepada beliau entah bagaimana caranya.

Kembali ke persoalan bahagia tadi kawan, karena saya melakukannya denga bahagia maka saya memandang tugas itu dari sudut pandang yang berbeda dengan teman-teman lainnya. Hingga sekarang saya belum bisa menjelaskan bagaimana saya mendapatkan perasaan bahagia itu mengingat sebelumnya saya tidak begitu menyukai pelajaran matematika, pun saya tidak terlalu terpesona dengan sosok Pak Syamsu. Terlepas dari mana asal usul perasaan bahagia itu, saya dengan yakin menyimpulkan sekali lagi bahwa kebahagiaan adalah sebab 82245824dari bagaimana setiap fenomena kehidupan itu secara tiba-tiba berubah menjadi indah.

Nah yang menakjubkan kawan, akhirnya di semester terakhir kelas 3 itulah (terakhir banget ya??? hehehe) akhirnya saya dapat masuk 10 besar pararel, meski hanya peringkat 9 namun kebahagiaannya tak terperikan. Meski ada satu hal yang agak saya sesalkan kawan, karena pada pengumuman terakhir ini yang menerima bukanlah orang tua, tapi kami sendiri. Jadi meski impianku untuk masuk 10 besar pararel tercapai, namun saya belum bisa membuat ibu berdiri dan menerima aplause dari wali murid lainnya, walau saya yakin beliu tetaplah bahagia. thanx mom!!!

Kawan anda juga bisa seperti ini bukan? Berbahagialah kawan!!!

Anda perlu bantuan?


Tindakan

Information

5 tanggapan

29 01 2009
andri

Ha..ha…jek eleng ae awakmu tentang kisah Pak Syamsu.

Terus terang aku menolak tugas iku. Bahkan namaku disebut saat Upacara hari senin sebagai pembangkang, kontan semua mata tertuju nang aku. Selepas upacara, masuk kelas. Jam 1-2 adalah jamnya Pak Syamsu, bukannya pelajaran matematika, 2 jam habis cuman untuk mendengar apa mauku. Tapi anehe, Pak Syamsu iku gak geger, gayane kan model kereng, asline gak.

Mari Pak Syamsu, aku dipanggil Pak Yon, yo gara2 aksi perlawanan iku. Aku dike’i buku saktumpuk, tapi gak tak jukuk, aku memilih ngerjakno tugas iku nok kertas lembaran biasa tanpa jilid, aku nglumpukno tugas yo lembaran2 ngono, cumak tak straples.

Guru2 laine melok2 geger. 3B dicap komunitas arek2 pembangkang, terutama guru2 wedok (nang njero ati…asline wedi di lawan ae…), ngajar sak enake dewe, ditinggal, cumak dike’i catetan, mari ngono ditinggal nang kantor (dadi merasa bersalah nang arek2 3B).

Aku nggarap tugas intisari soko kelas 1 sampek kelas 3 butuh waktu 2 bulan, pertama nok kelasku (aku krungu2 tugasku sing pertama dikumpulno sak kelas 3A sampek 3F). Tapi cobak bayangno, buku kelas 1 wis tak dol kanggo tuku buku kelas 2, buku kelas 2 di gowo adik misananku sing akhire tak sele dan aku digegeri bu lek ku gara2 anake onok PR bukune tak jukuk. Buku kelas 3 gak duwe, nyele nang arek2. Urip memang perjuangan yo le…

Tapi yo soko tugas iku, nilai matematika STTB ku dike’i 9 ambek Pak Syamsu. Tengkiu yo pak…

Dan Alhamdulillah maneh, aku peringkat 10 paralel. Duduk sing terbaik se…tapi aku satu2nya arek 3B sing mlebu peringkat paralel. Koyoke sing akeh yo 3D, nek gal 2 yo 3 arek sing mlebu peringkat paralel. Tapi tetep ae nok ngisore Feri, arek sing luemmu iku lo…

Feri iku yo…areke senengane cekiki’aaaaan ae, sampek nate digegeri wong nok langgar terminal, yo karo aku, gara2ne ngguyuuuu ae sampek wing wiritan gak konsen…

Waktu STM yo ngono, nok njero Mesjid, pas kajian Hadits, yo ngguyu ae ambek aku sampek lunggue di pisah, tapi tetep ae…dipisah tapi dep-depan, jek onok kesempatan kanggo cekiki’an….

Wah…nek ngilingi masa iku…ghak onok ente’e crito…semua membahagiakan, dan mensyukuri apa yang telah terjadi meski saat itu terasa sangat menyakitkan…

29 01 2009
zampoerno

Kalo masa lalu itu terdiri dari episode2 kehidupan yang terangkai bak gerbong kereta, maka ada beberapa gelintir manusia yang menghiasi gerbong2 masa laluku.
Salah satunya adalah A_Hadiawan. Saya memiliki pengalaman yang unik dan personal sama satu jenis manusia ini. Entah kenapa kalo sama dia bawaannya cuman Ngakak:Mode On!!!
Bahkan dikala sang ayah tercintanya meninggal pun ia tetap Ngakak: mode on, meski saya sekilas juga membaca bahwa ada nuansa kegetiran terbaur pada setiap senyum dan ngakaknya.
setelah lama gak ketemu orang satu ini malah semakin kontras saja rasanya perpaduan antara ngakak+bijak+cemas+kegetiran hidup. Membuat perjalanan hidupnya semakin unik. A_Hadiawan, satu sosok makhluk Tuhan yang tak pernah tuntas kubaca!
Kawan, mas SMP itu masanya, aku cuman anak culun yang punya banyak mimpi!!!! soalnya dia ini termasuk kategori “anak kota” seperti yang kutulis. Pergaulannya kelas elit KOTA KLISAT heheh sementara aku anak uraban yang baru belajar beradapatasi dengan KOTA>
tapi waktu STM, kita udah setara seirama…….
HEHEHHE, And, I miss U so much Bro, hope some time Allah wish to gather us again!!!!

30 01 2009
andri

I hope so Fer, I realy-realy want to back to East. You know, when I read this blog, this posting & your this reply, I miss, miss & miss East.

Sorry when I came to KALISAT LOVELY CITY, I didn’t see you.
If Alloh give us chans to see…

Now, I lookking for new jobs in East. But ’till today no vacancy call me back for joinning them.

Wish Alloh give me back to East.
Thank you bro…

Regrads to your family…

11 12 2010
Badra Wahyudi Cahya

jadi inget kisahku sma dulu ^^
……..
dr smp deso d lamongan…
k sma no.1 d kota sidoarjo…
hari pertama, tanpa ad tman/orang yg d knal sama sekali…
kelas 2 smester 1, rangking 1+d tunjuk jd pelajar eladan mewakili sekolah..
………
but, after that…i find “something”

1 11 2011
zampoerno

Betulll, badra yang sekarang adalah Badra yang dahsyat dan telah menemukan sesuatu…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.