MerindukanNya

23 02 2009

DSC 4820Sebenarnya hidup ini tentang apa ya? Tentang berjuang kah? Tentang berhasil kah? Tentang sukses kah? Tentang bermakna kah? atau tentang apa?

Saya memahami hampir sebagian besar dari teknik-teknik menjadi pribadi unggul, bahkan berulangkali saya telah menyampaikannya kepada orang lain, tapi mengapa mewujudkannya pada diri sendiri begitu rumitnya?

Saya bahkan kesulitan menakar, sebenarnya seberapa berkualitaskah saya, atau dengan kata lain seberapa bernilai dan berhargakah diri saya ini. Saya amati sepanjang proses saya menutup lembar demi lembar hari-hari kehidupan saya, saya sekali lagi kesulitan menemukan signifikasni keberadaan saya di muka bumi ini. Saya terjebak pada kesibukan-kesibukan kosong tanpa makna. Saya bosan, capek dan kelelahan yang teramat sangat. Ada dan tiadanya saya telah mulai bertemu pada titik yang sama. UNSIGNIFICANT.

Tidak ada benefit spiritual yang saya peroleh dalam perjalanan kehidupan saya akhir-akhir ini, pun investasi bagi hubungan keluarga, fisik saya hampir tak terlatih untuk lebih kuat, entah bagaimana dengan emosi dan motivasi, yang pasti saya lebih sering merasa mual pada hidup ini. Hari demi hari yang saya alami adalah ketekoran demi ketekoran potensi dan sumber daya, alih-alih mengembangkan dan membuatnya lebih bersinar.

Saya mulai kepayahan dengan segala episode “sampah” hidup saya. Kalo Tuhan putar kembali episode 1 tahun terakhir hidup saya, mungkin saya akan termehek-mehek tak berdaya untuk menjelaskan kepadaNya apa yang telah saya perbuat setahun ato bahkan mungkin 2-3 tahun terakhir ini. Serta kesia-siaan apa yang telah saya jalani, dengan menghabiskan begitu banyak potensi dan peluang berharga yang telah Tuhan pinjamkan kepada saya. Belum lagi sumber daya dan energi cinta yang tercurah kepada saya menguap tanpa meningggalkan makna dan nilai.

Saya terlampau banyak berbicara kosong dan bertindak bohong! Tuhan pasti tahu itu, Ia pasti gerah atas itu semua. Walau saya yakin Ia juga sangat menantiku kembali……………

Ia pasti ingin aku bangkit kembali

Ia pasti ingin aku cemerlang kembali

Ia pasti ingin aku tak pedulikan apapun agar aku mau berlari menjadi seperti apa yang Ia inginkan

Ia pasti ingin aku BAHAGIA dan BERJAYA

PASTI, PASTI

YA ALLAH, Ya Habibi, Ya Maulai, Ya Rabbi, Ya Ilahi

Ya Hakim, ya Wahhab, Ya ghafur, Ya Jabbar, Ya Sami’, Ya Bashir, Ya Dzul Jalali wal ikram, ya Aziz, ya Mutakabbir.ya Allah………………..

I love You so much my Lord, I miss You, please come back to me again………





SELALU ADA PILIHAN DIAWAL SETIAP RESPON KITA

15 02 2009

DSC 4561

Kawan, hari ini saya dihadapkan pada realita yang menguji keyakinan saya tentang sebuah presupposisi dalam NLP yang berbunyi “map is not the theritory”. Presupposisi ini memberikan landasan berpikir bagi kita bahwa sesungguhnya kita memiliki dua realitas setiap mengalami sebuah pengalaman atau stimulus kehidupan tertentu, kedua realitas itu adalah realitas internal [map] dan realitas eksternal [theritory].

Di dalam buku 7 Habits of Highly Effective People karangan Stephen R. Covey, anda akan menemukan pembahasan serupa hal ini pada bab pertama yang membahas mengenai paradigma. Covey menjelaskan bahwa setiap orang telah memiliki peta mental masing-masing untuk merespon setiap pengalaman yang dihadapinya. Itulah mengapa pada sebuah fenomena yang sama seringkali kita meresponnya dengan cara yang berbeda, dan tentu saja menghasilkan pengalaman yang secara kompleks berbeda pula satu sama lain. Hal tersebut terjadi karena memang sebenarnya kita merespon berdasarkan peta mental [paradigma/realitas internal] kita dan bukanlah pada kondisi yang sebenarnya [fenomena/realitas eksternal]. Hal ini bersesuaian dengan sebuah adagium yang sangat dikenal dalam dunia NLP sebagai derivasi dari presupposisi yang saya tulis diatas, yaitu people respon to their map not to their theritory. Persoalan timbul ketika kita menggunakan map yang keliru untuk sebuah theritory. Misal kita menggunakan peta Kota Malang untuk traveling di Kota Semarang, apa yang anda bayangkan bila hal itu terjadi? Tentu saja kita akan justru tersesat dengan map itu bukan? demikian pula bila kita merespon sebuah realitas eksternal dengan realitas internal yang keliru atau terlalu sempit, sewajarnya bila respon-balik yang kita terima kembali juga akan keliru. Anda dapat mencoba sebuah simulasi grapik yang Covey tampakkan pada bukunya mengenai sebuah gambar dengan dua tafsir [masing-masing tafsir benar]. Gambar seorang perempuan yang pada satu sudut pandang dapat berupa seorang nenek tua namun pada sudut pandang yang lain dapat berupa seorang gadis muda. Demikianlah paradigma, objek yang sama dapat menimbulkan tafsir yang berbeda tergantung pada paradigmanya, sayangnya paradigma kita terkadang dapat menimbulkan damapat atau respon-balik yang tak selamanya benar. Lantas dari manakah paradigma berawal? dalam simulasi yang ditunjukkan oleh Covey, ditunjukkan bahwa pengalaman masa lalu yang telah mengendap menjadi sebuah believe dapat menjadi paradigma bagi kita.

Okey kawan, mari kita hindari untuk memperpanjang obrolan tentang teori. Saatnya saya jelaskan hubungannya dengan realita yang saya alami hari ini. Singkat kisahnya begini, siang tadi sewaktu saya dan istri sedang sholat dhuhur, tanpa sepengetahuan kami anak kedua kami menjadikan kamera kantor yang saya pinjam, sebagai objek mainan. Ziyad, begitu nama anak kedua saya, yang memang sejak pertama kali melihat kamera itu menampakkan wajah courious gitu, menemukan kesempatan ketika kami tinggal sholat. Sebenarnya ini semua karena kelalaian saya sendiri yang meletakkan kamera di rak pakaian yang mudah dijangkau oleh anak saya. Entah bagaimana kejadiaannya, yang jelas ketika istri saya berteriak memberitahu bahwa kamera itu telah dibuat mainan kontan saya periksa kamera itu. Dan, masyaAllah….. kait lensanya patah. Duh kebayang saya harus ganti sekian juta untuk sekedar beli lensa kamera itu. Seketika itu juga saya marah betul, tapi tak tahu kepada siapa saya harus marah. Tak mungkin saya marah kepada Ziyad yang baru berusia 2 tahun itu, meski dia juga “kecipratan” marah saya juga. Saya acuhkan semua orang. Seperti biasa, otak saya segera memilih mode pelampiasan apa yang tepat. Akhirnya saya memilih tidur untuk menetralisir semuanya (hehehe, meski batin saya sebenarnya menolak mode ini).

Setelah bangun tidur, saya mencerna ulang semuanya. Kawan hal ini saya lakukan dalam keadaan batin masih marah, entah kepada siapa. Saya mereview semuanya, kemudian ada keinginan untuk konfirmasi hal-hal teknis mengenai kerusakan kamera itu ke dealer dimana kantor kami membelinya dulu. Informasi yang saya dapatkan, lensa itu seharga 1,6jt. Harus inden pula, karena barang yang original dan sesuai dengan spesifikasi kameranya mereka nggak stock. MasyaAllah, teguran apalagi ini, mana tanggungan bulan ini aja sudah lumayan menumpuk. Namun saya merasa ada penurunan kadar kemarahan saya sesaat setelah saya tahu resiko apa yang harus saya tanggung. Kawan, saya kembali menemukan kebenaran dari sebuah statemen yang saya suka. “Ketika anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masalah yang anda hadapi, maka cukup untuk membuat anda lebih tenang”. Terlebih ketika petugas dealer yang menjawab telpon saya mengingatkan bahwa seharusnya kamera itu masih dalam masa garansi. Alhamdulillah.

Kawan seketika itu saya semakin lega, kemudian mengingat semuanya. Alhamdulillah kemarahan saya tidak sampai terekspresikan secara langsung kepada anak saya atau orang lain di rumah. Mungkin hanya istri saja yang risih karena akhirnya akumulasi tidur saya dalam sehari itu menjadi menumpuk, hehehe. Kembali diakaitkan dengan teori di atas, pengalaman ini memiliki banyak sekali tawaran respon yang bisa saya pilih. Pun bila anda yang menghadapinya. Alhamdulillah meski respon yang saya pilih bukanlah yang terbaik, karena saya masih sempat marah, tapi juga bukanlah pilihan yang buruk. Saya memilih pilihan terakhir yang disunnahkan dalam mengahadapi kemarahan, TIDUR. Alhhamdulillah pula karena saya tidak memilih pilihan yang akan melukai jiwa anak saya atau orang lain. Semoga pada kesempatan lainnya saya dapat memilih pilihan terbaik ketika menghadapi cobaan, SABAR. Dan sebuah hadits berbunyi, Asshobbru fi shodamatil ‘ula [aw kama qala], kesabaran itu pada pukulan pertama. Maknanya orang yang sabar itu adalah yang mampu mempertahankan kesabarannya pada saat pertama kali ujian itu “memukul” tanpa diselipi kemarahan dan ketidak ridhaan atas takdirNya sedikitpun. Allahumaj’alna minasshabiriin.

Kawan anda pun memiliki pilihan yang sama, pastikan pilihan terbaik yang anda pilih.

Anda perlu bantuan?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.