SELALU ADA PILIHAN DIAWAL SETIAP RESPON KITA

15 02 2009

DSC 4561

Kawan, hari ini saya dihadapkan pada realita yang menguji keyakinan saya tentang sebuah presupposisi dalam NLP yang berbunyi “map is not the theritory”. Presupposisi ini memberikan landasan berpikir bagi kita bahwa sesungguhnya kita memiliki dua realitas setiap mengalami sebuah pengalaman atau stimulus kehidupan tertentu, kedua realitas itu adalah realitas internal [map] dan realitas eksternal [theritory].

Di dalam buku 7 Habits of Highly Effective People karangan Stephen R. Covey, anda akan menemukan pembahasan serupa hal ini pada bab pertama yang membahas mengenai paradigma. Covey menjelaskan bahwa setiap orang telah memiliki peta mental masing-masing untuk merespon setiap pengalaman yang dihadapinya. Itulah mengapa pada sebuah fenomena yang sama seringkali kita meresponnya dengan cara yang berbeda, dan tentu saja menghasilkan pengalaman yang secara kompleks berbeda pula satu sama lain. Hal tersebut terjadi karena memang sebenarnya kita merespon berdasarkan peta mental [paradigma/realitas internal] kita dan bukanlah pada kondisi yang sebenarnya [fenomena/realitas eksternal]. Hal ini bersesuaian dengan sebuah adagium yang sangat dikenal dalam dunia NLP sebagai derivasi dari presupposisi yang saya tulis diatas, yaitu people respon to their map not to their theritory. Persoalan timbul ketika kita menggunakan map yang keliru untuk sebuah theritory. Misal kita menggunakan peta Kota Malang untuk traveling di Kota Semarang, apa yang anda bayangkan bila hal itu terjadi? Tentu saja kita akan justru tersesat dengan map itu bukan? demikian pula bila kita merespon sebuah realitas eksternal dengan realitas internal yang keliru atau terlalu sempit, sewajarnya bila respon-balik yang kita terima kembali juga akan keliru. Anda dapat mencoba sebuah simulasi grapik yang Covey tampakkan pada bukunya mengenai sebuah gambar dengan dua tafsir [masing-masing tafsir benar]. Gambar seorang perempuan yang pada satu sudut pandang dapat berupa seorang nenek tua namun pada sudut pandang yang lain dapat berupa seorang gadis muda. Demikianlah paradigma, objek yang sama dapat menimbulkan tafsir yang berbeda tergantung pada paradigmanya, sayangnya paradigma kita terkadang dapat menimbulkan damapat atau respon-balik yang tak selamanya benar. Lantas dari manakah paradigma berawal? dalam simulasi yang ditunjukkan oleh Covey, ditunjukkan bahwa pengalaman masa lalu yang telah mengendap menjadi sebuah believe dapat menjadi paradigma bagi kita.

Okey kawan, mari kita hindari untuk memperpanjang obrolan tentang teori. Saatnya saya jelaskan hubungannya dengan realita yang saya alami hari ini. Singkat kisahnya begini, siang tadi sewaktu saya dan istri sedang sholat dhuhur, tanpa sepengetahuan kami anak kedua kami menjadikan kamera kantor yang saya pinjam, sebagai objek mainan. Ziyad, begitu nama anak kedua saya, yang memang sejak pertama kali melihat kamera itu menampakkan wajah courious gitu, menemukan kesempatan ketika kami tinggal sholat. Sebenarnya ini semua karena kelalaian saya sendiri yang meletakkan kamera di rak pakaian yang mudah dijangkau oleh anak saya. Entah bagaimana kejadiaannya, yang jelas ketika istri saya berteriak memberitahu bahwa kamera itu telah dibuat mainan kontan saya periksa kamera itu. Dan, masyaAllah….. kait lensanya patah. Duh kebayang saya harus ganti sekian juta untuk sekedar beli lensa kamera itu. Seketika itu juga saya marah betul, tapi tak tahu kepada siapa saya harus marah. Tak mungkin saya marah kepada Ziyad yang baru berusia 2 tahun itu, meski dia juga “kecipratan” marah saya juga. Saya acuhkan semua orang. Seperti biasa, otak saya segera memilih mode pelampiasan apa yang tepat. Akhirnya saya memilih tidur untuk menetralisir semuanya (hehehe, meski batin saya sebenarnya menolak mode ini).

Setelah bangun tidur, saya mencerna ulang semuanya. Kawan hal ini saya lakukan dalam keadaan batin masih marah, entah kepada siapa. Saya mereview semuanya, kemudian ada keinginan untuk konfirmasi hal-hal teknis mengenai kerusakan kamera itu ke dealer dimana kantor kami membelinya dulu. Informasi yang saya dapatkan, lensa itu seharga 1,6jt. Harus inden pula, karena barang yang original dan sesuai dengan spesifikasi kameranya mereka nggak stock. MasyaAllah, teguran apalagi ini, mana tanggungan bulan ini aja sudah lumayan menumpuk. Namun saya merasa ada penurunan kadar kemarahan saya sesaat setelah saya tahu resiko apa yang harus saya tanggung. Kawan, saya kembali menemukan kebenaran dari sebuah statemen yang saya suka. “Ketika anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masalah yang anda hadapi, maka cukup untuk membuat anda lebih tenang”. Terlebih ketika petugas dealer yang menjawab telpon saya mengingatkan bahwa seharusnya kamera itu masih dalam masa garansi. Alhamdulillah.

Kawan seketika itu saya semakin lega, kemudian mengingat semuanya. Alhamdulillah kemarahan saya tidak sampai terekspresikan secara langsung kepada anak saya atau orang lain di rumah. Mungkin hanya istri saja yang risih karena akhirnya akumulasi tidur saya dalam sehari itu menjadi menumpuk, hehehe. Kembali diakaitkan dengan teori di atas, pengalaman ini memiliki banyak sekali tawaran respon yang bisa saya pilih. Pun bila anda yang menghadapinya. Alhamdulillah meski respon yang saya pilih bukanlah yang terbaik, karena saya masih sempat marah, tapi juga bukanlah pilihan yang buruk. Saya memilih pilihan terakhir yang disunnahkan dalam mengahadapi kemarahan, TIDUR. Alhhamdulillah pula karena saya tidak memilih pilihan yang akan melukai jiwa anak saya atau orang lain. Semoga pada kesempatan lainnya saya dapat memilih pilihan terbaik ketika menghadapi cobaan, SABAR. Dan sebuah hadits berbunyi, Asshobbru fi shodamatil ‘ula [aw kama qala], kesabaran itu pada pukulan pertama. Maknanya orang yang sabar itu adalah yang mampu mempertahankan kesabarannya pada saat pertama kali ujian itu “memukul” tanpa diselipi kemarahan dan ketidak ridhaan atas takdirNya sedikitpun. Allahumaj’alna minasshabiriin.

Kawan anda pun memiliki pilihan yang sama, pastikan pilihan terbaik yang anda pilih.

Anda perlu bantuan?


Tindakan

Information

4 tanggapan

17 02 2009
andri

Sori Fer, baru baca uraian soko awakmu. Uraian yg bagus dan baru kemarin (16/02/09) saya alami.

Ceritanya begini…
Saya dapat new project, kurang lebih sudah 3 bulan yg lalu dan sampai saat ini belum bisa goal, karena spec part yg dibuat tidak seperti biasanya.

Sample part sudah dikirimkan 2 minggu yg lalu setelah banyak pembelajaran dari karakter part tersebut. 1 minggu setelah submitted sample saya datang ke perusahaan pemberi project. Ada beberapa kelengkapan dokumen yg harus dilengkapi. 1 minggu berlalu tapi kelengkapan belum juga lengkap. Otomatis si boss marah besar karena merasa nggak didukung, belum lagi dia merasa betapa susahnya dapat project.

Menanggapi kemarahan boss besar, saya juga ingin marah. Waktu itu di mobil. Reflek saya ngebut dan menikung tanpa rem. Hampir nabrak vario yg dikendarai seorang ibu. Rem mendadak pun menjadi pelariannya. Setelah itu baru si boss diam.

Setelah keluar tol, kembali marah dan menjalar ke masalah yg lain2.
Saya jelaskan bahwa untuk project ini, saya tidak bisa kerja sendirian. Jobs yg harus saya handle sudah selesai, saya juga sedang menunggu apa yg baru saja ditanyakan, dan setiap hari saya sudah follow up regulasi project ini. Dia nggak mau dengar dan nggak mau tahu, dia mau nanti malam sudah selesai dan tinggal dikirimkan.

Sampai di kantor, saya masih ingin marah. Setelah Sholat Ashar, boss sudah marah dulu ke semua member. Dipikirnya saya nggak follow up. Rasa ingin marah saya semakin memuncak.

Tapi, selepas Sholat Ashar itu saya berpikir sejenak. Kemarin follow up saya nggak digubris oleh temen2, sekarang dapat omelan boss, baru bergerak. Ada hal yg menguntungkan juga bahwa regulasi new project ini bisa berjalan lagi.

Semalam, saya putuskan untuk jalan2 malam2, dan makan di tempat yg nggak biasa, sampai jam 00. Sepulang ke rumah langsung tidur. Setelah sholat Shubuh, kembali saya merenung. Mungkin nggak seharusnya saya membahayakan jiwa orang yg menumpang di mobil meskipun sakit hati saya oleh dia.

Paginya, saya baca artikelmu iki. Tapi mungkin kesulitannya bagi saya adalah:
Bagaimana menempatkan sebuah masalah itu dicerna? Karena memang ada 2 sisi yang mungkin memang berbeda kondisinya. Internal & External.

Kemungkinan terjadinya adalah perbedaan persepsi antara yang ada di kepala saya dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Dan ternyata ini tidak hanya terjadi pada saya. Hampir semua member salah memberikan deskripsi ke otak kita masing2 pada apa keinginan si boss.

Thanks for help.

17 02 2009
Rudi B. Prakoso

Salam dari saya. Rudi B. Prakoso
Mungkin keadaan yang seperti diterangkan baik dari artikel dan komentar, sering terjadi pada kita semua. Sebagai contoh saya adalah seorang PNS yang masih sebagai staf. Sudah barang tentu namanya staf harus kerja sesuai dengan perintah atasan.

Nah perintah atasan dan tugas ini yang membuat kita juga merasa marah, muak, enggan untuk mengerjakannya tapi tetap harus selesai. Keadaan marah, enggan atau yang lain ini disebabkan tidak sesuainya perintah itu dengan hati nurani kita.

Kadang saya merasa sangat muak dengan keadaan pekerjaan yang sangat tidak sesuai dengan hati ini. Bahkan mungkin saya sudah berada pada titik jenuh bahkan hati dan pikiran sudah sangat lelah dan ingin berontak.

Memang akhirnya kita tetap harus sabar dan tawakal pada yang Kuasa, tapi tetap melakukan perubahan minimal pada diri kita sendiri untuk mengubah keadaan lebih baik lagi.

25 02 2009
zampoerno

Thanx kehadirannya And, moga kita bisa menjadi manusia yang dapat memilih respon terbaik sesuai yang Ia inginkan.

Untuk pertanyaanmu terakhir jawabnnya panjang, namun sekilas begini…
Bayangkan kamu berdiri di sebuah piramid yang memiliki beberapa balkon pada setiap ketinggian tertentu. Bisa kamu bayangkan khan, bahwa bila kita berdiri pada balkon dengan ketinggian yang berbeda maka areal pandang kita juga akan berbeda. Semakin tinggi balkon yang kita pilih maka akan semakin luas areal yang dapat kita lihat. Begitu pula dalam memandang setiap persoalan, semakin tinggi kita berdiri untuk memandangnya maka semakin komprehensif kita dapat memandang persoalan itu.Nah, kira2 apa yang bisa bikin kita berdiri pada balkon yang lebih tinggi?
Ketinggian balkon kita ditentukan oleh pengetahuan, wawasan, spiritualitas [kedekatan denganNya], pengalaman hidup dan sebagainya yang membuat kita dapat memiliki semakin banyak alat pembanding dan alat ukur untuk persoalan yang kita hadapi.
Untuk pertanyaan kedua, kenapa setiap kita sering kali salah dalam memberikan deskripsi kepada otak kita masing2. Jawabnnya karena mekanisme normal otak kita untuk selalu melakukan 3 hal pada setiap informasi, yaitu generalisasi, distorsi dan deletion [penghapusan]. Kenapa saya sebut mekanisme normal? Karena kita butuh untuk lakukan itu sebenarnya. Boleh kamu bayangin seandainya kamu harus menjelaskan spesifikasi sebuah benda kepada saya dengan desdkripsi yang semirip mungkin. Berapa lama kamu harus lakukan itu? Bahkan hanya untuk nyeritain seekor lalat pun saya yakin kamu butuh waktu tidak kurang dari seharian kalo harus betuk2 sebagaimana nyamuk itu adanya. Makanya otak kita lakukan 3 hal itu untuk mempermudah proses komunikasi dengan asumsi bahwa ada banyak hal yang dianggapnya kita sudah tahu sama tahu.
Nah pada tahapan asumsi tahu sama tahu inilah sering terjadi masalah, kita sering menganggap orang lain sudah tahu apa yang kita tahu. Padahal sangat mungkin belum khan? nah dari sinilah semuanya berawallllll
semoga bermanfaat..

25 02 2009
zampoerno

Salam juga mas Rudi, duuuuh yang Pe En Es rekk, ungkapan hati yang paling dalam ya…..

Untuk hal seperti njenengan itu seringkali saya nawarkan kepada temen yang curhat untuk melakukan perceptual position mas. Maksudnya coba sekali-kali kita berpikir dan merasakan dari posisi orang yang kita benci. Jujurlah dalam melakukannya, maka secara ajaib tiba2 kita bisa mengerti kenapa orang itu bersikap begini/begitu kepada kita.

daripada berharap orang lain berubah, kenapa kita nggak mencoba untuk mengawali perubahan??? betul??? saya sepakat dengan bagian terakhir komentar Mas Rudi.
terima kasih mampirnya Mas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.