Bersyukur Bisa Berbagi

20 04 2009

pray3Bagaimana saya tidak akan bersyukur yang berlipat-lipat ketika pada Sabtu, 18 April 2009 kemarin saya punya kesempatan yang begitu langka. Meski ini kesempatan untuk yang kedua kalinya, namun tetap saja rasanya tetap mendebarkan. Pada kesempatan pertama saya mengalaminya saja, untuk beberapa hari selanjutnya saya seperti mengalami shock realitas, perasaan seperti tidak percaya pada kenyataan yang baru saya alami. Saya terus mencoba-coba untuk meyakinkan diri bahwa itu riil, nyata adanya meski saya tak mampu menerima logika kenapa mereka benar-benar ada. Lantas saya menjadi gelagapan untuk menyalahkan berbagai pihak, namun toh kenyataannya persoalan mereka begitu kompleks dan terlalu rumit untuk diurai ujung pangkalnya.

Kawan, saya seolah tak sanggup menerima realitas ini. Mereka nampak begitu lugu, natural dan tak berdaya. Kenapa ada yang tega untuk merekayasa keberadaan mereka, teRlebih menyuburkan keberadaannya. Bahkan yang tak sanggup saya yakini adalah ada di antara mereka yang harus terus mengukuhkan diri menerima kenyataan status dirinya hingga usia senja menjelang gelap gulita.

Jum’at, 17 April 2009 pukul 19.00 ada SMS masuk, seorang kawan dari sebuah provider pelatihan meminta saya untuk memimpin Outbound Program di Kebun Teh Wonosari, besoknya. Sejenak saya diskusi dengan istri mengenai agenda kami besok dan akhirnya diputuskan bahwa waktu saya luang meski malamnya saya harus antar istri untuk bertemu dengan kelompok tani binaanya di Kromengan [+ 20Km dari rumah]. Meski biasanya saya nggak begitu suka dihubungi mendadak begini, entah malam itu saya langsung merespon SMS itu dan meng-iya-kan. Pada SMS berikutnya sekaligus saya bertanya siapa kira-kira pesertanya dan apa peran saya. SMS jawabannya begini “Antum (baca: kamu) yg pimpin. Sy support aja. Psrta para PSK. diawal icebreaking spt biasa ……….. Tp itu bisa diatur, yg pnting goalx spy mrk bs mentas dr aktivitas saat ini”. Kontan saya tersenyum kecut membaca siapa gerangan yang akan menjadi peserta outbound saya. Hehehe bayangkan saja bisanya saya memimpin Outbound untuk pelajar, mahasiswa atau karyawan dan profesional, ndilalah sekarang saya diminta memimpin Outbound untuk Pekerja Seks Komersial. MasyaAllah…………

Kawan bila di awal saya tulis bahwa saya betul-betul bersyukur, itu karena pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk bisa berbagi wawasan dan motivasi bahwa bila kita mau kita dapat memilih pilihan hidup yang lebih baik. Itu saja, dan alhamdulillah saya bisa lakukan itu. Soal berdampak atau tidak itu urusan Allah swt, tugas dan kewajiban saya sudah selesai. Buat mbak-mbak yang ketemu saya di wonosari kemarin! “ayo segera temukan jalan yang lebih baik, seperti hikmah dari game terakhir, menemukan jalan kebenaran itu memang sulit namun bukan berarti tak mungkin karena Allah pasti telah sediakan track terbaik bagi kita bila kita mau meraihnya!”. Alhamdulillah yang berikutnya karena di saat-saat terakhir program itu ada seorang peserta sambil berlinang air mata yang berpamitan kepada semua teman-temanya karena hari ini [Senin, 20 April 2009] dia akan meninggalkan lokalisasi dan akan kembali ke kampung halamannya….. Alhamdulillahhh…………

Kawan, sebenarnya saya ingin tulis pernak-pernik program ini dan berbagai cerita tentang mereka, tapi khawatir kepanjangan. Semoga kesempatan posting berikutnya saya ada kesempatan untuk tulis.

Kawan, kita harus senantiasa bersyukur bukan?





MerindukanNya

23 02 2009

DSC 4820Sebenarnya hidup ini tentang apa ya? Tentang berjuang kah? Tentang berhasil kah? Tentang sukses kah? Tentang bermakna kah? atau tentang apa?

Saya memahami hampir sebagian besar dari teknik-teknik menjadi pribadi unggul, bahkan berulangkali saya telah menyampaikannya kepada orang lain, tapi mengapa mewujudkannya pada diri sendiri begitu rumitnya?

Saya bahkan kesulitan menakar, sebenarnya seberapa berkualitaskah saya, atau dengan kata lain seberapa bernilai dan berhargakah diri saya ini. Saya amati sepanjang proses saya menutup lembar demi lembar hari-hari kehidupan saya, saya sekali lagi kesulitan menemukan signifikasni keberadaan saya di muka bumi ini. Saya terjebak pada kesibukan-kesibukan kosong tanpa makna. Saya bosan, capek dan kelelahan yang teramat sangat. Ada dan tiadanya saya telah mulai bertemu pada titik yang sama. UNSIGNIFICANT.

Tidak ada benefit spiritual yang saya peroleh dalam perjalanan kehidupan saya akhir-akhir ini, pun investasi bagi hubungan keluarga, fisik saya hampir tak terlatih untuk lebih kuat, entah bagaimana dengan emosi dan motivasi, yang pasti saya lebih sering merasa mual pada hidup ini. Hari demi hari yang saya alami adalah ketekoran demi ketekoran potensi dan sumber daya, alih-alih mengembangkan dan membuatnya lebih bersinar.

Saya mulai kepayahan dengan segala episode “sampah” hidup saya. Kalo Tuhan putar kembali episode 1 tahun terakhir hidup saya, mungkin saya akan termehek-mehek tak berdaya untuk menjelaskan kepadaNya apa yang telah saya perbuat setahun ato bahkan mungkin 2-3 tahun terakhir ini. Serta kesia-siaan apa yang telah saya jalani, dengan menghabiskan begitu banyak potensi dan peluang berharga yang telah Tuhan pinjamkan kepada saya. Belum lagi sumber daya dan energi cinta yang tercurah kepada saya menguap tanpa meningggalkan makna dan nilai.

Saya terlampau banyak berbicara kosong dan bertindak bohong! Tuhan pasti tahu itu, Ia pasti gerah atas itu semua. Walau saya yakin Ia juga sangat menantiku kembali……………

Ia pasti ingin aku bangkit kembali

Ia pasti ingin aku cemerlang kembali

Ia pasti ingin aku tak pedulikan apapun agar aku mau berlari menjadi seperti apa yang Ia inginkan

Ia pasti ingin aku BAHAGIA dan BERJAYA

PASTI, PASTI

YA ALLAH, Ya Habibi, Ya Maulai, Ya Rabbi, Ya Ilahi

Ya Hakim, ya Wahhab, Ya ghafur, Ya Jabbar, Ya Sami’, Ya Bashir, Ya Dzul Jalali wal ikram, ya Aziz, ya Mutakabbir.ya Allah………………..

I love You so much my Lord, I miss You, please come back to me again………





SELALU ADA PILIHAN DIAWAL SETIAP RESPON KITA

15 02 2009

DSC 4561

Kawan, hari ini saya dihadapkan pada realita yang menguji keyakinan saya tentang sebuah presupposisi dalam NLP yang berbunyi “map is not the theritory”. Presupposisi ini memberikan landasan berpikir bagi kita bahwa sesungguhnya kita memiliki dua realitas setiap mengalami sebuah pengalaman atau stimulus kehidupan tertentu, kedua realitas itu adalah realitas internal [map] dan realitas eksternal [theritory].

Di dalam buku 7 Habits of Highly Effective People karangan Stephen R. Covey, anda akan menemukan pembahasan serupa hal ini pada bab pertama yang membahas mengenai paradigma. Covey menjelaskan bahwa setiap orang telah memiliki peta mental masing-masing untuk merespon setiap pengalaman yang dihadapinya. Itulah mengapa pada sebuah fenomena yang sama seringkali kita meresponnya dengan cara yang berbeda, dan tentu saja menghasilkan pengalaman yang secara kompleks berbeda pula satu sama lain. Hal tersebut terjadi karena memang sebenarnya kita merespon berdasarkan peta mental [paradigma/realitas internal] kita dan bukanlah pada kondisi yang sebenarnya [fenomena/realitas eksternal]. Hal ini bersesuaian dengan sebuah adagium yang sangat dikenal dalam dunia NLP sebagai derivasi dari presupposisi yang saya tulis diatas, yaitu people respon to their map not to their theritory. Persoalan timbul ketika kita menggunakan map yang keliru untuk sebuah theritory. Misal kita menggunakan peta Kota Malang untuk traveling di Kota Semarang, apa yang anda bayangkan bila hal itu terjadi? Tentu saja kita akan justru tersesat dengan map itu bukan? demikian pula bila kita merespon sebuah realitas eksternal dengan realitas internal yang keliru atau terlalu sempit, sewajarnya bila respon-balik yang kita terima kembali juga akan keliru. Anda dapat mencoba sebuah simulasi grapik yang Covey tampakkan pada bukunya mengenai sebuah gambar dengan dua tafsir [masing-masing tafsir benar]. Gambar seorang perempuan yang pada satu sudut pandang dapat berupa seorang nenek tua namun pada sudut pandang yang lain dapat berupa seorang gadis muda. Demikianlah paradigma, objek yang sama dapat menimbulkan tafsir yang berbeda tergantung pada paradigmanya, sayangnya paradigma kita terkadang dapat menimbulkan damapat atau respon-balik yang tak selamanya benar. Lantas dari manakah paradigma berawal? dalam simulasi yang ditunjukkan oleh Covey, ditunjukkan bahwa pengalaman masa lalu yang telah mengendap menjadi sebuah believe dapat menjadi paradigma bagi kita.

Okey kawan, mari kita hindari untuk memperpanjang obrolan tentang teori. Saatnya saya jelaskan hubungannya dengan realita yang saya alami hari ini. Singkat kisahnya begini, siang tadi sewaktu saya dan istri sedang sholat dhuhur, tanpa sepengetahuan kami anak kedua kami menjadikan kamera kantor yang saya pinjam, sebagai objek mainan. Ziyad, begitu nama anak kedua saya, yang memang sejak pertama kali melihat kamera itu menampakkan wajah courious gitu, menemukan kesempatan ketika kami tinggal sholat. Sebenarnya ini semua karena kelalaian saya sendiri yang meletakkan kamera di rak pakaian yang mudah dijangkau oleh anak saya. Entah bagaimana kejadiaannya, yang jelas ketika istri saya berteriak memberitahu bahwa kamera itu telah dibuat mainan kontan saya periksa kamera itu. Dan, masyaAllah….. kait lensanya patah. Duh kebayang saya harus ganti sekian juta untuk sekedar beli lensa kamera itu. Seketika itu juga saya marah betul, tapi tak tahu kepada siapa saya harus marah. Tak mungkin saya marah kepada Ziyad yang baru berusia 2 tahun itu, meski dia juga “kecipratan” marah saya juga. Saya acuhkan semua orang. Seperti biasa, otak saya segera memilih mode pelampiasan apa yang tepat. Akhirnya saya memilih tidur untuk menetralisir semuanya (hehehe, meski batin saya sebenarnya menolak mode ini).

Setelah bangun tidur, saya mencerna ulang semuanya. Kawan hal ini saya lakukan dalam keadaan batin masih marah, entah kepada siapa. Saya mereview semuanya, kemudian ada keinginan untuk konfirmasi hal-hal teknis mengenai kerusakan kamera itu ke dealer dimana kantor kami membelinya dulu. Informasi yang saya dapatkan, lensa itu seharga 1,6jt. Harus inden pula, karena barang yang original dan sesuai dengan spesifikasi kameranya mereka nggak stock. MasyaAllah, teguran apalagi ini, mana tanggungan bulan ini aja sudah lumayan menumpuk. Namun saya merasa ada penurunan kadar kemarahan saya sesaat setelah saya tahu resiko apa yang harus saya tanggung. Kawan, saya kembali menemukan kebenaran dari sebuah statemen yang saya suka. “Ketika anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masalah yang anda hadapi, maka cukup untuk membuat anda lebih tenang”. Terlebih ketika petugas dealer yang menjawab telpon saya mengingatkan bahwa seharusnya kamera itu masih dalam masa garansi. Alhamdulillah.

Kawan seketika itu saya semakin lega, kemudian mengingat semuanya. Alhamdulillah kemarahan saya tidak sampai terekspresikan secara langsung kepada anak saya atau orang lain di rumah. Mungkin hanya istri saja yang risih karena akhirnya akumulasi tidur saya dalam sehari itu menjadi menumpuk, hehehe. Kembali diakaitkan dengan teori di atas, pengalaman ini memiliki banyak sekali tawaran respon yang bisa saya pilih. Pun bila anda yang menghadapinya. Alhamdulillah meski respon yang saya pilih bukanlah yang terbaik, karena saya masih sempat marah, tapi juga bukanlah pilihan yang buruk. Saya memilih pilihan terakhir yang disunnahkan dalam mengahadapi kemarahan, TIDUR. Alhhamdulillah pula karena saya tidak memilih pilihan yang akan melukai jiwa anak saya atau orang lain. Semoga pada kesempatan lainnya saya dapat memilih pilihan terbaik ketika menghadapi cobaan, SABAR. Dan sebuah hadits berbunyi, Asshobbru fi shodamatil ‘ula [aw kama qala], kesabaran itu pada pukulan pertama. Maknanya orang yang sabar itu adalah yang mampu mempertahankan kesabarannya pada saat pertama kali ujian itu “memukul” tanpa diselipi kemarahan dan ketidak ridhaan atas takdirNya sedikitpun. Allahumaj’alna minasshabiriin.

Kawan anda pun memiliki pilihan yang sama, pastikan pilihan terbaik yang anda pilih.

Anda perlu bantuan?





Hiduplah di Saat Ini

20 01 2009

82382653Kawan, dalam bukunya dr. Arief Alamsyah [The Way to Happiness] mengungkapkan satu teknik untuk menjadi manusia bahagia, yaitu jadilah orang yang “hidup disaat ini” [Get Present Oriented]. Buat saya yang agak susah komitmen pada sesuatu, ini jadi menarik kawan! soalnya diantara sumber ketidak komitmenan saya adalah terlalu kuat mengecewai kegagalan dalam berkomitmen di masa lalu dan terlalu kuat mencemasi kemungkinan kegagalan berkomitmen di masa depan.

Dalam beberapa percobaan [ceile….. alias praktek] ku temukan satu efek menakjubkan dengan GPO [get present oriented] ini. Misal waktu saya mencoba komitmen untuk meniru Bilal bin Rabah [sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga] dalam menjaga wudhu dan shalat sunnah ba’da thaharah, awalnya ada suara-suara hati yang berkata-kata begini: “alah paling-paling gagal lagi kayak biasanya…..” sama “hehehe sekarang sih boleh semangat, tapi coba ntar lagi, paling 2-3 hari KO!”

Kawan selama ini saya sering termakan dengan suara-suara hati yang menyebalkan itu! tapi kali ini tidak lagi, sejak saya berusaha untuk GPO saya lawan suara itu denga ungkapan yang tak kalah “menyebalkan” [heheheh] seperti:
“biar aja kemarin gagal emang kenapa? saya khan ga akan bawa masa lalu terus-terusan kemana-mana, wueeekkk!!!” atau “masa depan khan masih ntar lagi ngapain dipikirin, yang penting aku kerjain dulu sekarang, perkara ntar nggak lanjut ya coba lagi, gitu aja koq repot heheheh” atau “yang penting khan sekarang aku komitmen??!!! wek perkara bentar lagi ga komitmen lagi, itu mah urusan ntar!!!! khan bisa komitmen lagi”

alhamdulillah kecemasan yang menjadi penghalang saya untuk memulai berkomitmen pada rencana posititf tertentu mendadak kabur jauuuuuuuuuuuuh banget, heheheh

Di NLP (Neuro-Linguistic Programming) cara yang saya lakukan di atas adalah teknik reframing. Reframing adalah teknik membingkai ulang sebuah pengalaman agar memiliki “rasa” berbeda sehingga memberikan pengalamn baru bagi kita (begitu kira-kira makna sederhananya).

Kawan anda boleh koq coba juga!!!!!
Ada yang bisa saya bantu????





Bahagia Membuat Mimpi Menjadi Nyata

20 01 2009

Kawan, sewaktu SMP dulu saya pernah memiliki mimpi untuk masuk dalam peringkat 10 besar pararel dalam satu angkatan. Salah satu tradisi yang ada di SMP Negeri 1 Kalisat dimana saya sekolah dulu adalah mengumumkan 10 siswa yang masuk peringkat tertinggi pararel dalam satu angkatan. Pengumumannya dilakukan pada saat orang tua siswa hadir untuk pengambilan raport. Jadi sebelum mengambil raport kepada wali kelas masing-masing anak mereka, terlebih dahulu mereka dikumpulkan untuk menerima berbagai informasi dari sekolah termasuk peringkat 10 besar pararel tadi. Bayangkan betapa bangganya para orang tua yang nama anaknya dipanggil kemudian mereka diminta berdiri dan menerima aplause meriah dari orang tua lainnya. Hingga satu ketika ibu mengungkapkan mimpinya, bahwa kelak ia ingin merasakan menjadi salah satu orang tua yang dipanggil untuk berdiri. Sejak saat itu saya menyimpan mimpi ibu itu menjadi mimpi saya sendiri.

200416908-001Kawan, saya adalah salah satu diantara teman-teman di kelas yang berasal dari kampung, bermimpi untuk bersaing dengan mereka yang telah mengenyam pendidikan di kota tentulah tantangan tersendiri. Bahkan saya tidak bisa lupa pengalaman pertama kali menjadi bahan tertawaan teman-teman kelas hanya karena bahasa Indonesia saya yang udik. Saya betul-betul tidak bisa lupakan itu. Dengan kondisi semacam ini, mimpi ibu itu menjadi spirit tersendiri bagi saya untuk berani memilih akhir seperti apa yang saya inginkan dari masa SMP saya. Meski bahkan di semester pertama kelas 3 pun mimpi itu tak kunjung hadir, saya tidak patah semangat. Saya masih yakin bahkan pada kesempatan terakhir pun pasti saya masih punya harapan.

Satu hal yang saya ingat betul ketika kelas 3, ada satu guru yang dikenal cukup “sangar”, beliau mengajar Matematika, namanya Bpk. Nursyamsu (terakhir saya dengar beliau menjadi kepala sekolah). Pak Syamsu, begitu kami biasa memanggil beliau, memberi tugas untuk menyusun ulang intisari pelajaran Matematika bab per bab sejak kelas satu hingga pelajaran terakhir yang didapat. Boleh Anda tebak barapa banyak buku yang kami gunakan untuk mencatat ulang semua pelajaran itu! Yang pasti seingat saya, saya menggunakan 3-4 buah buku besar ukuran folio bergaris. Sementara ada diantara teman-teman saya yang menghabiskan lebih banyak lagi buku. Bahkan saya dapat melihat dengan pasti bagaimana meja Pak Syamsu ini dikelilingi benteng tumpukan buku yang tinggi menjulang. Lebih parahnya lagi, kami harus menyalin semua pelajaran matematika tersebut dengan sistematika pencatatan yang sesuai standar. Tentu saja bagi kami yang terbiasa “dimanja” dengan metodologi penyelesaian matematika denga sistem “asal tahu sama tahu” alias main singkat-singkat saja, tugas beliau ini menjadi makin berat untuk didiselesaikan. Wajar saja bila sebagian dari teman-teman saya merasakan tugas ini sebagai beban yang melelahkan jiwa dan raga.

Sementara, saya sendiri merasa heran, takjub karena saya justru merasa bahagia mengerjakan tugas ini. Saya menikmati sekali setiap proses menyelesaikan tugas ini. Setiap ada waktu luang, dengan riang saya kerjakan. Bahkan akhirnya perasaan riang itu merembet pada pelajaran-pelajaran lainnya. Saya memang tidak sempurna menyelesaikan tugas dari Pak Syamsu, namun terakhir saya baru menyadari bahwa bukan catatan ulang itu substansi pendidikan beliau tapi pada saat kami harus mengulang kembali semua pelajaran dan bahkan mencatatnya itulah yang membuat kami “dipaksa” belajar kembali. Dan karena ini menjadi tugas yang dikumpulkan maka belajar kembali ini mau tidak mau harus kami lakukan. Hari ini setelah saya mengetahui pelajaran berharga dari proses yang dilakukan Pak Syamsu dulu, saya merasa berhutang terima kasih kepada beliau. Semoga rasa terima kasih ini kelak sampai juga kepada beliau entah bagaimana caranya.

Kembali ke persoalan bahagia tadi kawan, karena saya melakukannya denga bahagia maka saya memandang tugas itu dari sudut pandang yang berbeda dengan teman-teman lainnya. Hingga sekarang saya belum bisa menjelaskan bagaimana saya mendapatkan perasaan bahagia itu mengingat sebelumnya saya tidak begitu menyukai pelajaran matematika, pun saya tidak terlalu terpesona dengan sosok Pak Syamsu. Terlepas dari mana asal usul perasaan bahagia itu, saya dengan yakin menyimpulkan sekali lagi bahwa kebahagiaan adalah sebab 82245824dari bagaimana setiap fenomena kehidupan itu secara tiba-tiba berubah menjadi indah.

Nah yang menakjubkan kawan, akhirnya di semester terakhir kelas 3 itulah (terakhir banget ya??? hehehe) akhirnya saya dapat masuk 10 besar pararel, meski hanya peringkat 9 namun kebahagiaannya tak terperikan. Meski ada satu hal yang agak saya sesalkan kawan, karena pada pengumuman terakhir ini yang menerima bukanlah orang tua, tapi kami sendiri. Jadi meski impianku untuk masuk 10 besar pararel tercapai, namun saya belum bisa membuat ibu berdiri dan menerima aplause dari wali murid lainnya, walau saya yakin beliu tetaplah bahagia. thanx mom!!!

Kawan anda juga bisa seperti ini bukan? Berbahagialah kawan!!!

Anda perlu bantuan?





Bahagia adalah Sebab dan Bukanlah Akibat

14 01 2009

83400645Kawan, sebelumnya saya meyakini bahwa kebahagiaan adalah hasil dari setiap stimulus emosi yang saya terima. Maksudnya saya akan bahagia bila saya dicintai, bila saya punya rumah mewah, bila semua orang mengagumi saya, bila saya berada di tempat yang indah, bila keinginan saya dituruti dan berbagai prasyarat lainnya. Seolah bila itu semua tak saya dapatkan maka dunia ini hambar adanya.

Namun sejak saya membaca sebuah buku yang berjudul The Way to Happiness karangan dr. Arief  Alamsyah [diterbitkan gramedia] serta banyak berdiskusi dengan penulis, saya memperoleh paradigma baru tentang kebahagiaan. Bahagia mestilah “sebab” alih-alih akibat, karena justru dengan bahagia Anda akan merasa dicintai, dengan bahagia Anda dapat menikmati kenyamanan tempat tinggal Anda, dengan bahagia bahkan kita dapat melihat keindahan mendung dan sisi positif badai.

Oleh sebab pemahaman ini maka saya berupaya untuk berbagi dengan siapapun agar kebahagiaan segera meluas, karena perubahan positif sebagaimana kita harapkan semua dengan demikian harus dimulai dengan menghadirkan kebahagiaan dalam diri kita. Saya hanya ingin bahagia, juga Anda, juga semuanya.

Anda Juga?